Posted by: Hurul Aini on: 22 January 2012
Ketika kebosanan melanda liburan semester ini, gue iseng-iseng buka-buka lagu-lagu lama. Nggak sengaja gue tertarik banget untuk dengerin lagu yang dulu sempet nge-hits di radio. Sang Penghibur (Padi). Setelah gue maknai lagi lirik demi lirik di lagu itu, gue merasa ada gertakan yang terjadi di kepala gue. Tiba-tiba gue flashback. Flashback ke masa-masa gue galau jurusan, galau PTN sampai semester pertama gue berakhir.
Di situlah akhirnya gue menyadari, bahwa selama semester pertama gue jalani kuliah, gue kehilangan semangat belajar. Entah itu karena malas, lingkungan, atau karena gue sempet nge-down beberapa kali gara-gara gue merasa kalau kuliah itu nggak gampang. Lirik lagunya bener-bener menyindir gue. Gue betul-betul sadar kalau gue bukan lagi menjadi seorang sosok yang diceritakan dalam lirik lagu itu.
Gue inget, betapa dulu gue pengen banget kuliah di ITB/UI, dan gue rela pergi pagi-pagi dan pulang bener-bener malem, ngelewatin macetnya Kalimalang di jam orang pulang kerja cuma demi ngikutin bimbel. Setibanya di rumah, gue masih bela-belain ngerjain modul-modul latihan dan ngebuka soal-soal tryout. Biar bisa diterima di PTN impian.
Gue inget, dulu gue sering menyemangati temen-temen gue yang masih belum mendapatkan kursi di PTN impian mereka. Gue selalu tekankan sama mereka bahwa pertolongan Tuhan itu selalu dekat, dan usaha keras pasti membuahkan hasil yang manis.
Setelah gue masuk kuliah…
Sosok seorang gue yang semangat belajar terhapus sedikit demi sedikit.
Seorang Aini yang selalu optimistis menjadi rentan dengan munculnya tekanan di sana sini.
Walaupun gue selalu terlihat ceria di kampus, tapi sejujurnya gue sering nangis ketika nggak ada orang yang melihat. Menangis karena gue merasa nggak kuat dengan deadline yang nggak pernah berhenti, dengan tugas yang menuntut kesempurnaan. Gue jadi berubah, menjadi sosok yang sering meng-underestimate kemampuan gue sendiri.
Sekarang gue sadar, kenapa tiap nyokap gue berusaha menenangkan gue, mama selalu bilang, “Mana Aini yang selalu jadi motivator teman-temannya? Mana Aini yang selalu semangat?”
Untuk semester selanjutnya, gue nggak mau kaya gitu lagi. Semoga ini adalah semester terakhir yang gue jalani tanpa ada semangat untuk menjadi yang terbaik. Wish me a ton of luck.
Makasih Padi, telah membangkitkan dan menyegarkan semangat gue lagi
.
setiap perkataan yang menjatuhkan
tak lagi ku dengar dengan sungguh
juga tutur kata yang mencela
tak lagi ku cerna dalam jiwa
aku bukanlah seorang yang mengerti
tentang kelihaian membaca hati
ku hanya pemimpi kecil yang berangan
tuk merubah nasibnya…
oh.. bukankah ku pernah melihat bintang
senyum menghiasi sang malam
yang berkilau bagai permata
menghibur yang lelah jiwanya
yang sedih hatinya
yang lelah jiwanya
yang sedih hatinya
ku gerakkan langkah kaki
di mana cinta akan bertumbuh
ku layangkan jauh mata memadang
tuk melanjutkan mimpi yang terputus
masih ku coba mengejar rinduku
meski peluh membasahi tangan
lelah penat tak menghalangiku
menemukan bahagia
oh… bukankah ku pernah melihat bintang
senyum menghiasi sang malam
yang berkilau bagai permata
menghibur yang lelah jiwanya
yang sedih hatinya
yang lelah jiwanya
yang sedih hatinya
yang lelah jiwanya
oh.. bukankah ku bisa melihat bintang
senyum menghiasi sang malam
yang berkilau bagai permata
menghibur yang lelah jiwanya
bukankah hidup ada perhentian
tak harus kencang terus berlari
ku helakan nafas panjang
tuk siap berlari kembali…
berlari kembali..
melangkahkan kaki
menuju cahaya
bagai bintang yang bersinar
menghibur yang lelah jiwanya
bagai bintang yang berpijar
menghibur yang sedih hatinya
Sang Penghibur – Padi
Ini ceritaku, apa ceritamu?
28 January 2012 at 8:38 PM
:’)
semangaaaat kakaaaaak